Sejarah dan Perkembangan Sosiologi
SEJARAH
PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Oleh :
RAYNALDI DWI CAHYA
NPM 118090085
a. Pengertian dan Istilah Sosiologi
Istilah Sosiologi pertama kali diciptakan oleh
Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering disebut sebagai bapak sosiologi.
Istilah sosiologi pertama kali dikenalkan dalam bukunya yang yang berjudul, The Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Menurut Comte
ilmu sosiologi harus didasarkan pada penelitian dan klasifikasi yang sistematis
bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Hal ini merupakan pandangan baru pada saat
itu.
Di
Inggris Herbert Spencer menerbitkan bukunya Principle of
Sociology dalam tahun 1876. Ia menerapkan teeori evolusi organik pada
masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang “evolusi sosial” yang
diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian.
Orang Amerika Lester F. Ward yang menerbitkan bukunya “Dynamic Sociology”
dalam tahun 1883, menghimbau kemajuan sosial melalui tindakan-tindakan sosial
yang cerdik yang harus diarahkan oleh para sosiolog.
Di
Perancis, Emile Durkheim menunjukkan pentingnya metodologi ilmiah dalam
sosiologi. Dalam bukunya Rules of Sociological Method yang diterbitkan tahun
1895, menggambarkan metodologi yang kemudian ia teruskan penelaahannya dalam
bukunya berjudul Suicide yang diterbitkan pada tahun 1897.
Buku itu memuat tentang sebab-sebab bunuh diri, pertama-tama ia merencanakan
disain risetnya dan kemudian mengumpulkan sejumlah besar data tentang ciri-ciri
orang yang melakukan bunuh diri dan dari data tersebut ia menarik suatu teori
tentang bunuh diri.
b. Perkembangan Sosiologi
Kuliah-kuliah sosiologi muncul di berbagai universitas
sekitar tahun 1890-an. The American Journal of Sociology memulai
publikasinya pada tahun 1895 dan The American Sociological Society (sekarang
bernama American Sociological Association) diorganisasikan dalam tahun 1905.
Sosiolog Amerika kebanyakan berasal dari pedesaan dan mereka kebanyakan pula berasal dari para pekerja sosial; sosiolog Eropa sebagian besar berasal dari bidang-bidang sejarah, ekonomi politik atau filsafat.
Sosiolog Amerika kebanyakan berasal dari pedesaan dan mereka kebanyakan pula berasal dari para pekerja sosial; sosiolog Eropa sebagian besar berasal dari bidang-bidang sejarah, ekonomi politik atau filsafat.
Urbanisasi dan industrialisasi di Amerika pada tahun
1900-an telah menciptakan masalah sosial. Hal ini mendorong para sosiolog Amerika
untuk mencari solusinya. Mereka melihat sosiologi sebagai pedoman ilmiah untuk
kemajuan sosial. Sehingga kemudian ketika terbitnya edisi awal American Journal
of Sociology isinya hanya sedikit yang mengandung artikel atau riset ilmiah,
tetapi banyak berisi tentang peringatan dan nasihat akibat urbanisasi dan
industrialisasi. Sebagai contoh suatu artikel yang terbit di tahun 1903
berjudul “The Social Effect of The Eight Hour Day” tidak mengandung data
faktual atau eksperimental. Tetapi lebih berisi pada manfaat sosial dari hari
kerja yang lebih pendek.
Namun pada tahun 1930-an beberapa jurnal sosiologi
yang ada lebih berisi artikel riset dan deskripsi ilmiah. Sosilogi kemudian
menjadi suatu pengetahuan ilmiah dengan teorinya yang didasarkan pada
obeservasi ilmiah, bukan pada spekulasi-spekulasi.
Para
sosiolog tersebut pada dasarnya merupakan ahli filsafat sosial. Mereka mengajak
agar para sosiolog yang lain mengumpulkan, menyusun, dan mengklasifikasikan
data yang nyata, dan dari kenyataan itu disusun teori sosial yang baik.
Bapak Pendiri Sosiologi (The Founding Fathers Of
Sosiology) yang sampai kini pikirannya masih dipakai dalam teori sosiologi,
yaitu Auguste Comte, Karl Marx, Max Weber, dan Emile Durkheim. Pandangan mereka
telah memberi stimulan diskusi panjang tentang pelbagai persoalan terkait dgn
kehidupan ekonomi, politik, dan kebudayaan. Pandangan mereka juga digunakan
dalam disiplin ilmu social lain seperti ilmu politik, ekonomi, antropologi, dan
sejarah.
c.
Sejarah dan Perkembangan Sosiologi Di Indonesia
Sejak jaman kerajaan Indonesia sebenarnya para raja
dan pemimpin di Indonesia sudah mempraktikkan unsur-unsur Sosiologi dalam
kebijakannya begitu pula para pujangga Indonesia. Misalnya saja Ajaran Wulang
Reh yang diciptakan oleh Sri PAduka Mangkunegoro dari Surakarta, mengajarkan
tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari
golongan-golongan yang berbeda, banyak mengandung aspek-aspek Sosiologi,
terutama dalam bidang hubungan antar golongan (intergroup relations).
Ki Hajar Dewantoro, memberikan sumbangan di bidang sosiologi terutama mengenai
konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia dengan nyata di
praktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
Pada masa penjajahan Belanda ada beberapa karya tulis orang Belanda yang mengambil masyarakat Indonesai sebagai perhatiannya
seperti Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoven, Ter Haar, Duyvendak dll. Dalam
karya mereka tampak unsur-unsur Sosiologi di dalamnya yang dikupas secara
ilmiah tetapi kesemuanya hanya dikupas dalam kerangka non sosiologis dan tidak
sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sosiologi pada waktu itu
dianggap sebagai Ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata
lain Sosiologi pada saat itu belum dianggap cukup penting dan cukup dewasa untuk
dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan, terlepas dari ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya.
Kuliah-kuliah Sosiologi mulai diberikan sebelum Perang
Dunia ke dua diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di
Jakarta. Kuliah Sosiologi inipun masih sebagai pelengkap bagi pelajaran Ilmu
Hukum. Sosiologi yang dikuliahkan sebagin besar bersifat filsafat Sosial dan
Teoritis, berdasarkan hasil karya Alfred Vierkandt, Leopold Von Wiese, Bierens
de Haan, Steinmetz dan sebagainya.
Pada tahun 1934/1935 kuliah-kuliah Sosiologi pada
sekolah Tinggi Hukum tersebut malah ditiadakan. Para Guru Besar yang bertaggung
jawab menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan dan bentuk susunan
masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan
dalam pelajaran hukum.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17
Agustus 1945, Soenario Kolopaking, untuk
pertama kalinya memberi kuliah sosiologi (1948) pada Akademi Ilmu Politik di
Yogyakarta (kemudia menjadi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM . Beliau
memberika kuliah dalam bahasa Indonesai ini merupakan suatu yang baru, karena
sebelum perang dunia ke dua semua perguruan tinggi diberikan dalam bahasa
Belanda. Pada Akademi Ilmu Politik tersebut, sosiologi juga dikuliahkan sebagai
ilmu pengetahuan dalam Jurusan Pemerintahan dalam Negeri, hubungan luar negeri
dan publisistik. Kemudian pendidkikan mulai di buka dengan memberikan
kesempatan kepara para mahasiswa dan sarjana untuk belajar di luar negeri sejak
tahun 1950, mulailah ada beberapa orang Indonesia yang memperdalam pengetahuan
tentang sosiologi.
Buku Sosiologi mulai diterbitkan sejak satu tahun
pecahnya revolus fisik. Buku tersebut berjudul Sosiologi Indonesai oleh Djody
Gondokusumo, memuat tentang beberapa pengertian elementer dari Sosiologi yang
teoritis dan bersifat sebagai Filsafat. Selanjutnya
buku karangan Hassan Shadily dengan judul Sosilogi Untuk Masyarakat Indonesia
yang merupakan merupakan buku pelajaran pertama yang berbahasa Indonesia yang
memuat bahan-bahan sosiologi yang modern.
Para pengajar sosiologi lebih banyak
mempergunakan terjemahan buku-bukunya P.J. Bouman, yaitu Algemene
Maatschapppijleer dan Sociologie, bergrippen en problemen serta buku Lysen yang
berjudul Individu en Maatschapppij. Buku-buku
Sosiologi lainnya adalah Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas karya Mayor Polak,
seorang warga Negara Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda, yang telah
mendapat pelajaran sosiologi sebelum perang dunia kedua pada universitas Leiden
di Belanda. Beliau juga menulis buku berjudul Pengantar Sosiologi Pengetahuan,
Hukum dan politik terbit pada tahun 1967.
Selo Soemardjan menulis buku Social Changes in Yogyakarta pada tahun 1962. Selo
Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi, menghimpun bagian-bagian terpenting dari
beberapa text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar
ringkas dalam bahasa Indonesia dirangkum dalam buku Setangkai Bunga Sosiologi
terbit tahun 1964.
Pada masa sekarang ini
telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan
politik atau Fakultas Ilmu Sosial. Sampai saat ini belum ada Universitas yang
mngkhususkan sosiologi dalam suatu fakultas sendiri, namun telah ada Jurusan
Sosiologi pada beberapa fakultas Sosial dan Politik UGM, UI dan UNPAD.
Komentar
Posting Komentar